August 1st, 2006 by braddadimas
Mengendarai sepeda motor di Jakarta ternyata memang berbahaya. Selain banyaknya jumlah pengendara motor yang berseliweran, jalan-jalan di Jakarta banyak yang berlubang. Belum lagi adanya ranjau paku yang tersebar di mana-mana. Pada awalnya gue berpikir mengendarai motor bisa mengatasi solusi macet di jalanan sekaligus berhemat bensin, ternyata di jalan gue tetap capek karena harus menghindari lubang-lubang dan melalui jalanan yang rusak. Seandainya transportasi publik di Jakarta nyaman dan aman mungkin gue akan tetep naik bis umum, tapi gue udah muak sama angkot yang nyetirnya ugal-ugalan dan bis yang banyak jambret dan tukang palak. Kemungkinan solusi alternatifnya gue akan cari tempat timggal deket kantor atau mungkin gue akan nyoba ‘b2w’ alias ‘bike to work’ seperti yang udah dilakukan sama beberapa orang yang berkantor di daerah sudirman, masalahnya rumah gue jauh banget di depok, duh gimana dong?
Posted in Current Affairs | 3 Comments »
November 26th, 2005 by braddadimas
Gue punya temen yang paling nggak suka datang ke acara pernikahan keluarga. Gue nggak tahu alasan persisnya kenapa, tapi akhirnya gue jadi punya perasaan yang sama. Kok gue bisa punya perasaan yang sama? Ceritanya begini, biasanya kalau mempelainya kebetulan saudara dekat seperti kakak, adik atau sepupu berarti yang datang ke pernikahan adalah saudara dari keluarga terdekat, kalau di Jawa biasanya pakde, bude, tante, om dan lain sebagainya yang semuanya punya tali persaudaraan dengan orang tua kita. Nah! di keluarga gue, seperti layaknya keluarga Jawa pada umumnya (atau rata-rata keluarga di Indonesia ), memiliki silsilah persaudaraan yang rumit dan untuk mengenali saudara atau pakde ini sangat sulit dilacak jejaknya (inget iklan HSBC?) Silsilah yang rumit ini menyebabkan gue bingung kalau ketemu sama saudara gue, salah satu alasannya adalah karena orang tua gue pasti selalu menyuruh untuk menghafalkan semua saudara-saudara itu (masya ampun dari keluarga besar aja bisa memenuhi sebuah gedung pertemuan berukuran kira-kira 2000 x 1000 meter, gimana menghafalnya?) atau paling nggak gue hafal dengan saudara yang dekat sama bokap gue, ini aja udah setengah mati ingetnya. Akhirnya mungkin orang tua gue nyerah dan membiarkan gue kenal dekat sama keluarga dari pihak bapak dan ibu gue aja, fiuuuh…
Selain silsilah yang rumit itu biasanya ada sebuah ajang hiburan tahunan bagi para bude-bude dan tante-tante, mereka paling senang menginterogasi para bujang yang tak berdaya (seperti gue ini) dan anak perempuan yang masih ‘single’ dengan usia di atas 22 tahun, waahhh pasti jadi bulan-bulanan. Pertanyaan paling populer adalah “Jadi kamu kapan nyusul?” lalu gue jawab “Nyusul apa? Bis? Apa saya sedang ikut lomba lari?” pertanyaan ini sepertinya menjadi standar kelayakan untuk menjadi seorang bude maupun tante, akibatnya apabila adik atau kakak perempuan dari bapak atau ibu kita belum melontarkan pertanyaan seperti itu, berarti dia tidak lulus uji standar kelayakan untuk menjadi seorang bude maupun tante. Bahkan ajang pertanyaan maut ini akan terus menghantui apabila kita sudah memiliki pasangan dan sudah menikah. Contohnya kalau seseorang di keluarga sudah menikah, maka pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana udah isi belum?” Kalau memang budenya agak cerewet sampai hamil pun akan terus ditanya “Kapan lahirnya? Laki atau perempuan? Mau dirawat di mana?” Bukannya gue mau mengeluhkan pertanyaan itu, gue ngerti kalau sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap keponakannya yang baru menikah, tapi apakah segala sesuatu itu harus selalu dipertanyakan? Dan mengingat pertanyaan itu selalu diulang setiap kali bertemu jelaslah membuat siapapun jadi tertekan, rasanya seperti lagi ujian terus diawasi sama ibu guru.
Teror di dalam keluarga ini akan lebih berat bagi si bujang, kalau si bujang belum punya pasangan pasti akan dilempar ke kolam perjodohan (gue biasanya dicemplungin dalam kolam perjodohan ini sampai basah kuyup–being the only single person in the family), sementara kalau sudah punya pasangan pasti disuruh ikut lomba buruan kawin. Hweh, dipikirnya nikah itu gampang, udah gitu apakah udah cocok apa belum sama pasangan kita nggak pernah dipikirin oleh mereka. Seringkali tekanan-tekanan ini bisa juga meretakkan hubungan si bujang dengan pasangannya, bisa karena si bujang takut akan komitmen atau sebaliknya pasangannya yang takut komitmen. Semua ini akhirnya membuat gue menjadi enggan menghadiri acara pernikahan atau pertemuan keluarga, tapi kalau memang harus datang (tidak dengan terpaksa) ini adalah beberapa tips untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan maut it (semoga bermanfaat):
- Apabila bude dan tante mendekat, segeralah berpura-pura menjadi pohon atau tanaman hias yang ada dalam gedung pertemuan.
- Jika strategi itu tidak berhasil dan para bude dan tante menemukan lo sambil nanya-nanya, segera isi mulut dengan banyak makanan supaya tidak harus menjawab (jangan lupa ambil minum nanti tersedak).
- Coba bergabung dengan kumpulan saudara ipar karena di sana tidak ada yang kenal, jadi bebas dari pertanyaan maut. Tapi ingat, carilah yang masih muda-muda karena kalau berkumpul dengan yang sudah tua pasti pertanyaan itu muncul lagi.
- Mendekatlah ke speaker dan pura-pura tidak dengar kalau dipanggil oleh bude atau tante, ingat! sumbat kuping pakai kapas atau bisa kena resiko ‘budek’ beneran.
- Kalau bude dan tante terlanjur bertanya, berpura-puralah terima telepon penting dari presiden yang ingin ketemu lo untuk sebuah urusan penting menyangkut keberlangsungan negara RI.
- Jika bude dan tante ternyata kenal dekat atau bersahabat dengan presiden RI maka segera tutup telpon dan perlahan berjalanlah menjauh. Apabila jarak sudah cukup jauh lemparkan sebuah bom asap dan menghilanglah layaknya seorang ninja.
- Kalau semua strategi itu tidak berhasil, jawab saja pertanyaan mereka dengan senyum manis sambil berputar haluan menuju tempat makanan dan makanlah yang banyak hwahaha…burp!
Posted in Current Affairs | 2 Comments »
November 15th, 2005 by braddadimas
Children of Heaven adalah sebuah film yang
berkisah tentang dua orang anak dari keluarga miskin yang mengambil setting di
negara Iran . Ceritanya Ali menghilangkan sepatu adiknya Zahra, yang baru saja
diperbaiki. Mereka sepakat untuk tidak bercerita kepada ayahnya karena takut dimarahi ayahnya, yang tidak sanggup membelikan sepatu baru untuk Zahra, . Dari
sinilah petualangan mereka dimulai, sampai akhirnya Ali mengikuti lomba lari
agar dapat memberikan sepatu baru untuk Zahra. Cerita dalam film ini cukup
mengharukan, tapi tidak terlihat cengeng, inti ceritanya adalah: bagaimanapun
sulitnya hidup ini pasti ada jalan keluarnya. Agak seperti bukunya ibu Kartini,
habis gelap terbitlah terang, yang kontras dengan keadaan masyarakat Indonesia
saat ini, kayaknya habis gelap semakin gelap dan tambah gelap aja. Anyway, film
ini mengingatkan gue untuk tetap optimis dalam keadaan apapun, buat temen-temen
gue atau siapapun yang baca tulisan ini, khususnya yang sedang banyak masalah
atau yang sedang mengerjakan TKA dan skripsinya (huhu) mari tetap optimis! Seize
the day.
Posted in Film | No Comments »
October 28th, 2005 by braddadimas
Rumah gue adalah sebuah rumah yang terhitung tua, rumah satu tingkat
yang dibangun pada pertengahan tahun 70-an dengan arsitektur sederhana
yang dipugar secara asal oleh ayahanda tercinta. Kenapa asal? Ceritanya
begini, selama tahun 80-an rumah ini mengalami pemugaran seperti
penambahan kamar, kolam ikan (yang sempat dibongkar dan dibikin lagi),
kamar mandi serta garasi mobil. Tapi salah satu perombakan yang yang
paling kontroversial terjadi pada awal tahun 90-an ketika tangga yang
menuju ke kamar atas dipindahkan dari ruang tengah ke ruang belakang
(di atas sebuah kolam kecil). Tangga ini tidak langsung menuju pintu
depan kamar gue tapi melalui jemuran dulu baru sampai di kamar. Ide
awalnya sih agar ruang tamu di rumah gue lebih lega dan udara yang
masuk lebih banyak, dan juga supaya tangga di rumah gue berada di
ruangan yang terbuka (alias bisa melihat langit, awan dan kadang kala
burung yang suka membuang bom-nya sembarangan di kepala gue) Tapi yang
nggak terpikirkan oleh babe gue adalah ketika hujan sudah pasti ruang
jemuran pakaian akan basah dan karena gue harus melalui jemuran itu
setiap kali gue mau ke kamar, maka kalau hujan udah pasti gue terkena
cipratan-cipratan air hujan itu. Belum lagi sejak itu tetangga gue
dapat melihat gue bolak-balik dari kamar ke ruang bawah atau jika
sedang beraktifitas menjemur pakaian, jadi privasi pun agak berkurang.
Meskipun gue sering mengeluhkan berbagai kekurangan rumah ini (secara
fisiknya) tapi ini adalah tempat ternyaman buat gue, gue tumbuh dan
menjadi dewasa di rumah ini, dari gue masih digendong sampai gue sudah
cukup besar dan sering keluyuran karena bisa nyetir mobil sendiri
(meskipun mobilnya sekarang udah dijual hiks, tapi nggak apa-apa karana
harga bensin mahal banget sekarang) Pengalaman gue beberapa bulan
terakhir pun membuat gue semakin merasa bersyukur masih memiliki rumah
ini, karena gue lihat semakin banyak orang yang tinggal di
tempat-tempat yang tidak layak di huni manusia. Sebagai contoh di
sebuah bantaran kali dekat rumah gue kini bermunculan rumah yang
terbuat dari kayu dan seng atau biasa disebut bedeng. Keluarga yang
tinggal di bedeng itu rata-rata berprofesi sebagai kuli bangunan,
pemulung atau pengemis. Gue nggak tau bagaimana dan darimana mereka
muncul tapi keadaan ini semakin merisaukan karena kemanapun gue pergi,
setiap gue pulang malam hari, pemandangan yang gue lihat adalah orang
yang tidur di emperan toko atau di kolong jembatan. Tadinya gue pikir
ini adalah fenomena yang umum terjadi di perkotaan menjelang lebaran
ketika ribuan pengemis datang membanjiri kota Jakarta untuk mendapatkan
jatah zakat tapi kejadian ini udah berlangsung lama, jauh sebelum bulan
puasa. Dan selama gue tinggal di kota Depok, terutama di kompleks
perumahan gue, nggak pernah ada kejadian seperti ini. Gue rasa jurang
sosial antara masyarakat kaya dan miskin semakin dalam dan semakin
memburuk, yang gue bisa lakukan saat ini hanya menulis dan berharap
buat siapapun yang baca tulisan ini untuk membuka mata juga dan melihat
keadaan lingkungannya, gue jamin dalam radius beberapa meter dari rumah
loe pasti akan ketemu pemandangan seperti ini (terutama kalo loe
tinggal di Jakarta). Untuk saat ini gue akan mencoba berbuat sesuatu
untuk membantu mereka, paling nggak dengan zakat, karena itu salah satu
cara yang gue tau dan gue dapat menyalurkannya ke orang yang memang
benar-benar membutuhkan, terutama di sekitar kompleks gue. Rumah gue
seperti istana jika dibandingkan dengan mereka dan gue malu karena gue
sering mengeluhkannya, thank you Lord I still have a wonderful house.
Posted in Current Affairs | 1 Comment »
October 24th, 2005 by braddadimas
Pada bulan Mei yang lalu keponakan gue nambah satu, seorang bayi laki-laki yang diberi nama Aditya, seneng banget gue akhirnya punya keponakan cowok. Karena keponakan gue semuanya perempuan dari mulai Nabila, Lala dan yang terkecil Safia. Meskipun begitu gue berusaha menyayangi semuanya dengan kadar yang sama, mereka adalah miniatur-miniatur lucu yang seringkali bertingkah di luar dugaan, kehadiran mereka nggak cuma mengubah hidup kakak gue tapi juga mengubah hidup gue. Meskipun gue bukan orang tuanya gue juga merasa bertanggung jawab melindungi mereka. Pernah satu kali gue dengar mereka bernyanyi dengan bahasa inggris ‘twinkle, twinkle little star, how I wonder where you are…’ gue langsung menyambut dengan suka cita. Waaww, keponakan gue udah bisa nyanyi pake bahasa inggris, meskipun masih terbata-bata. Tapi yang bikin gue kaget tiba-tiba mereka berhenti menyanyikan lagu anak-anak itu dan menggantinya dengan lagu apa coba? Peterpan!!! (oke, gue jelasin dulu di sini bahwa Peterpan ini bukan Peterpan yang musuhnya Captain Hook dan lagu yang dinyanyikan nggak ada kaitannya dengan lost boys atau bajak laut) Gue langsung meminta mereka lebih baik mengulang lagi lagu twinkle-twinkle little star, tapi mereka bersikukuh untuk menyanyikan lagu itu. Dari pengalaman ini membuat gue (sebagai orang yang baru saja berkecimpung di dunia musik) menyadari bahwa pertama, kekuatan musik itu ternyata cukup luar biasa dan kedua, di Indonesia ini kita nggak akan pernah lolos dari lagunya Peterpan! Gue telah didoktrin selama berbulan-bulan untuk mendengarnya (terlepas suka atau tidak) di segala tempat mulai stasiun kereta, mal, pertokoan, terminal, kafe, restoran, warung sampai puncaknya keponakan gue pun ikutan nyanyi. Gue akui ini adalah sebuah fenomena yang gila, mungkin suatu saat perlu ada yang meneliti bagaimana hal ini bisa terjadi. Balik lagi topiknya ke keponakan gue yang lucu-lucu itu, gara-gara kejadian itu gue jadi khawatir, karena yang namanya anak kecil memang terbiasa meniru orang dewasa alias membeo, meskipun mereka sebenarnya tidak benar-benar mengerti apa yang mereka katakan, kalau meniru lirik lagu sih masih aman asal lirik lagunya sopan tapi apa jadinya kalau yang mereka tiru adalah kata-kata mengumpat. Nah! Bahaya banget tuh… Gue jadi sadar lagi betapa berat beban menjadi orang tua, salut deh buat kedua kakak gue yang tabah dan sabar menjadi orang tua dan juga untuk orang tua gue yang bertahun-tahun sabar banget sama gue yang suka nggak jelas gini, terutama buat alm mom tercinta. Sebentar lagi di keluarga gue akan ada dua keponakan baru, yang pertama dari kakak perempuan gue (anak keduanya) dan satu lagi dari istrinya adik gue (anak pertamanya) semoga mereka hadir ke dunia ini dalam keadaan sehat (amin) dan pasti om-nya yang satu ini akan menunggu dengan penuh riang (sambil siap-siap merogoh kocek buat beliin kado yang semakin banyak hawhawhawhaw…hhmmm gawat juga nih)
Posted in Current Affairs | 3 Comments »
October 24th, 2005 by braddadimas
“Naik kereta api tut, tut, tut… siiiapa mau turuut…ke Banduung, Surabayaa…” lagu ini sudah jarang terdengar lagi tapi nggak tau kenapa gue masih inget aja, awalnya gue tahu lagu ini waktu duduk di bangku Sekolah Dasar. Kadang-kadang lagu itu masih gue nyanyikan dalam hati, terutama ketika naik Kereta Ekonomi jurusan Jakarta, tapi versinya sedikit beda “Naik kereta listrik bzzzt, bzzt, bzzt…siiiapa mau turuut…ke Tebet, sampai Kota…Awaaas copetnya tak kan jeraaa…” dst. Versinya jadi beda karena kereta yang gue tumpangi adalah kereta listrik yang tidak memiliki cerobong asap layaknya kereta api jaman dahulu yang bunyinya “tut, tut, tut…” Tapi gue masih sering membayangkan alangkah menyenangkannya perjalanan dengan kereta uap jaman dahulu melewati sawah, bukit dan perkebunan yang belum banyak polusi, nggak seperti kereta listrik zaman sekarang yang berjalan melalui tumpukan sampah pasar perkotaan yang baunya bercampur dengan keringat manusia dan asap kendaraan bermotor. “Parfum” dari bahan baku sampah ini baunya menyengat dan menusuk hidung para penumpang di dalam gerbong kereta, hal ini semakin menambah ketidaknyamanan kereta listrik yang selalu penuh. Meskipun kereta listrik di Jakarta ini sangat tidak nyaman, masih banyak orang yang memilih naik kereta listrik, termasuk gue, soalnya di saat harga bensin yang melambung menyebabkan tarif transportasi naik, PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) belum menaikkan harga tiketnya. Sekalipun harga tiket itu naik, kemungkinan besar tidak akan terlalu tinggi jika dibandingkan dengan harga tarif transportsi umum yang naiknya berkali-kali lipat. Sehingga dalam keadaan ekonomi sulit seperti sekarang ini, kereta listrik menjadi alternatif angkutan yang murah untuk para kaum menengah bawah. Selain KRL Ekonomi ada juga KRL Ekspress AC jurusan Kota yang berhenti di stasiun tertentu, kereta yang satu ini lebih nyaman dan beradab tapi harga tiketnya juga jauh lebih mahal, sehingga secara jelas membedakan kelas masyarakat yang memiliki penghasilan cukup dengan yang berpenghasilan kurang, gue sering naik kereta Ekspress AC ini waktu bekerja di daerah Pasar Baru (waktu itu penghasilannya masih cukup huhuhu…). Jadi, apapun jenisnya, kereta di daerah perkotaan memang sudah sangat berbeda dengan kereta api yang digambarkan oleh lagu tersebut, kereta listrik di perkotaan adalah sebuah alat transportasi massal yang setiap harinya mengangkut ribuan orang di Jakarta, sementara kereta yang di lagu “Naik Kereta Api” adalah kereta (yang mungkin pada zaman penjajahan Belanda) digunakan untuk mengangkut penumpangnya ke berbagai daerah di pulau Jawa (bener nggak tuh?). Seandainya Pintu Ke Mana Saja-nya Doraemon benar-benar ada, gue nggak perlu lagi naik transportasi umum yang menyebalkan atau membayar bensin yang harganya nggak mau turun (hhmmmm…)
Posted in Current Affairs | No Comments »
October 16th, 2005 by braddadimas
Ada yang tahu istilah lempar body alias mengelak pertanyaan karena malas menjawab? Gue tahunya udah lama. Tapi gue baru tahu kalau lempar body ini telah menjadi olahraga populer di kalangan professional? Nggak percaya? Lagi-lagi klien di kantor tempat gue kerja freelance berulah, kali ini tidak satu orang tapi beberapa orang kepala divisi. Pada pertemuan ini sengaja dikumpulkan semua kepala divisi untuk menanyakan masalah seputar bisnis klien gue, dan ketika pertanyaan pertama diajukan pertandingan lempar body pun dimulai. Jalannya pertandingan kira-kira kayak begini “Yak saudara-saudara seperti anda lihat pertanyaan pertama telah dilontarkan kepada bapak A, tapi bapak A melemparkan ke bapak X, bapak X mengelak dan melakukan lontaran salto ke bapak Z. Wah sodara-sodara ternyata bapak Z terpojok dan mengalihkan perhatiannya kepada seorang pelayan cantik yang menjaga counter makanan.” Perilaku seperti ini nggak cuma bikin pusing tapi juga menyebabkan gue semakin sulit mengetahui akar permasalahan bisnis klien gue. Sebenarnya gue agak kasihan juga dengan mereka karena penyebab perilakunya adalah kebijakan atasan mereka yang selalu berubah-ubah sampai bikin bingung, karena berdasarkan cerita mereka, para bos (yang terdiri dari empat orang) juga memiliki hobi olahraga lempar body bahkan mereka termasuk anggota klub atlit lempar body professional (isinya mungkin para pengacara, insan periklanan, selebritis bermasalah, politikus, orang humas dkk). Mungkin suatu hari nanti olahraga ini bisa masuk olimpiade, dengan demikian kita bisa tahu negara mana yang paling ahli dalam melempar body dan gue yakin Indonesia pastilah menjadi juara pertama di setiap kompetisi.
Posted in Current Affairs | No Comments »
October 14th, 2005 by braddadimas
Sesuatu yang pasti itu adalah ketidakpastian, kata-kata ini mempunyai makna yang sangat kuat dalam hidup gue. Karena sejak kecil sampai detik ini nggak semua hal-hal yang gue inginkan atau rencanakan selalu berjalan lancar sesuai keinginan. Contoh mudahnya dalam sebuah pertandingan sepak bola, nggak selalu terjadi gol, bisa saja pertandingan berakhir tanpa gol (…dan penonton perlahan meninggalkan stadium yang sepi diiringi nyanyian jangkrik yang terdengar sayup-sayup di kejauhan ‘krik, krik, krik…’) Kalau nggak percaya coba aja hitung sendiri berapa banyak sih rencana atau keinginan kita yang sudah terpenuhi? Gue yakin pasti nggak semua keinginan dan rencana kita sudah terwujudkan. Tapi, biasanya kalau satu rencana gagal akan terkompensasikan dengan yang lain walau itupun belum pasti. Misalnya, waktu gue memutuskan untuk keluar kerja dan bermain musik, gue mengajukan surat pengunduran diri dan nggak berharap apa-apa, tapi ternyata gue dapat bonus dua bulan gaji karena menurut bos gue waktu itu performa gue cukup bagus (walaupun dalam waktu dua bulan bonusnya langsung habis buat bayar tagihan dan pengeluaran harian, yaks nggak berjalan sesuai rencana lagi). Ketidakpastian paling sering terjadi dalam hubungan interpersonal, misalnya ketika gue suka dengan seseorang, ribuan pertanyaan akan muncul di kepala gue seperti, dia suka sama gue nggak ya? Apakah dia cuma “bersikap baik”? Atau dia udah punya pacar? dll. Beberapa waktu yang lalu gue membahas masalah hubungan interpersonal sama sahabat gue, menurut dia biarkan saja segala sesuatu berjalan apa adanya, kan ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, jadi kenal saja dulu dengan orangnya, nanti kalau sudah saling suka satu sama lain baru dilanjutkan ke tahapan berikutnya. Mungkin gue bukan tipe yang ’sikat aja bos!’ ayo langsung gebess ciiaaat, saaatt, seettt, weets (kayak film kung fu) gue cenderung berhati-hatilah, bukannya sok milih (siapa gue?) tapi kalau soal hubungan antar pribadi gue agak kurang jago…(tepatnya jurus-jurus kung fu gue belum mahir, nanti salah sikat, berabe kan) Intinya segala sesuatu nggak ada yang pasti di kehidupan ini, meskipun demikian bukan berarti kita jadi males dan nggak bikin rencana apapun, kalau gue sih tetap menjalankan mimpi gue dan berusaha bertahan hidup dengan segala daya upaya yang gue punya, karena nggak ada yang bilang hidup itu gampang. Kata orang nih (Siapakah orang ini? Masih menjadi misteri sampai saat ini) yang pasti di dunia ini hanyalah kematian (wuiiih agak serem, tapi bener juga sih). Tapi kalau kata Lisa Ekdahl di liriknya “…cause life’s an open door” jadi jalankan saja hidup ini, tinggal pilih pintu yang mana.
Posted in Current Affairs | No Comments »
October 7th, 2005 by braddadimas
Dua minggu terakhir ini gue menjadi seorang pekerja freelance untuk sebuah perusahaan advertising yang juga brand consultant, klien yang gue tangani adalah sebuah apartemen sekaligus mal di daerah Jakarta Selatan. Pekerjaannya seharusnya mudah saja, hanya menjaga tone and manner dari desain mal tersebut, tujuannya agar tidak melenceng dari positioning perusahaannya. Namun, masalahnya adalah mereka nggak ngerti pentingnya mengkomunikasikan positioning perusahaannya. Pada salah satu meeting di kantor klien, bos gue langsung marah-marah, gara-gara, ketika ditanya mengenai rencana promosi untuk tiga bulan ke depan salah seorang dari pihak klien gue ini bilang “Sebenarnya saya sudah punya plan untuk promosi tiga bulan ke depan tapi semuanya masih di kepala saya” Dalam hati gue bilang “Hah?” jadi gue harus baca pikirannya dia? Gue langsung berencana, nanti di meeting berikutnya, gue ajak saja Dedi Corbuzier biar dia yang gue suruh nebak isi otak klien gue ini. Terus mereka bisa saling bertatapan dengan dahi berkerut berusaha menebak apa isi pikiran masing-masing. Hal kayak gini cukup aneh dan terus terang aja, selama hidup gue, baru sekali gue menemui situasi seperti ini, gimana caranya kita bisa tahu apa yang ada di pikiran orang lain? Itu adalah hal yang mustahil kecuali kita punya ilmu sihir seperti professor Snape yang mencoba membaca pikiran Harry Potter, ini pun bisa ditangkal kalau kita dapat berkonsentrasi untuk mengosongkan pikiran. Ternyata berkomunikasi itu nggak gampang, apalagi membaca pikiran! Gue sering berkhayal seandainya ada sebuah alat yang dapat menerjemahkan ide gue jadi nyata. Jika alat kaya’ gini benar ada, beberapa ide yang keluar dari gue adalah: Satu, gue mau mobil yang memakai bahan bakar air dan materinya mudah terurai jika sudah nggak dipake, Yang kedua, gue mau rumah organik yang bisa dimakan dan tumbuh kembali dengan sendirinya, ketiga mungkin gue bikin parfum yang gak habis wanginya meskipun udah keringetan gara-gara naik angkot, bis atau kereta (walau sebetulnya gue nggak perlu parfum ini kalau udah punya mobil ber-ac yang pake bahan bakar air), keempat gue bikin radar pendeteksi ulat bulu supaya mereka nggak hinggap di pohon depan rumah gue dan bikin badan gue gatel-gatel, kelima tentunya gue perlu pistol pengusir anti ulat bulu, yang keenam satu set drum yang bisa dilipat sampai kecil sehingga bisa dimasukan ke dalam tas ransel supaya mudah dibawa ke mana aja, dan yang ketujuh gue akan bikin alat “Lancar Ngomongs X2000″ supaya bisa mengungkapkan isi hati ke cewek yang gue suka, nggak cuma bengong ngeliatin sampai akhirnya tuh cewek pergi dengan orang lain (sial!) Sebenarnya masih banyak ide-ide lain yang lebih serius (hawhawhaw…) tapi gue stop sampai di situ dulu, ada yang punya ide bagus?
Posted in Current Affairs | 3 Comments »
October 1st, 2005 by braddadimas
Sudah seminggu ini gue terkena wabah gatal-gatal
yang dicurigai penyebabnya adalah ulat penghuni pohon jambu mawar di halaman
depan rumah gue. Kejadian persis seperti ini juga pernah menimpa gue waktu masih
duduk di bangku SMP, waktu itu ulat-ulat ini berada di pohon mangga persis di
pinggir jalan depan rumah gue, alhasil pohon tersebut ditebang. Gue nggak tau
apakah pohon jambu mawar ini akan bernasib sama dengan pohon mangga yang dulu,
yang jelas gue dapat menyimpulkan bahwa semua kejadian ini akibat dari ulah
manusia juga. Kejadiannya berawal beberapa tahun yang lalu ketika sebuah pohon
besar (warga setempat menjulukinya pohon kawin karena pohon itu sebenarnya
gabungan pohon kelapa dan kapuk) ditebang tanpa alasan yang jelas. Yang tidak
diketahui warga adalah pohon itu merupakan rumah bagi beberapa jenis satwa
seperti burung gereja, serangga (termasuk ulat), kalajengking dan beberapa
makhluk halus (yang ini urusan lain) sehingga penghancuran rumah mereka
menyebabkan mereka terpaksa harus mencari rumah baru tanpa ada kompensasi
penggantian atas rumah lamanya (tampaknya penggusuran paksa nggak hanya berlaku
bagi masyarakat kota saja). Mungkin sebagai protes ulat-ulat yang tinggal di
pohon kawin itu bermigrasi ke pohon mangga di depan rumah gue dan menyebarkan
bulu-bulu beracunnya ke rumah gue. Kalau ulat itu bisa ngomong mereka pasti
teriak "jangan rampas rumah kami!" sambil bawa spanduk bertuliskan Koalisi Ulat
Tertindas. Bapak gue, lantas mengambil tindakan yang dianggap paling masuk akal
"Tebang saja pohonnya!" Habislah pohon mangga yang dulu ‘ngademin depan rumah
gue. Tahun demi tahun berlalu, gue tumbuh semakin besar dan nggak pernah lagi
mengalami wabah gatal-gatal. Tiba-tiba suatu hari gue menemukan pohon besar yang
ada di seberang jalan rumah tetangga gue sudah habis ditebang, pada saat itu gue
nggak berpikir macam-macam. Tapi tak lama kemudian kejadian yang tak diinginkan
pun terjadi lagi, wabah gatal-gatal itu mulai menyerang! Dan sekarang tinggal
menunggu waktu apakah bapak gue akan mengambil keputusan yang sama beberapa
tahun lalu atau mengambil kebijakan lain. Kesimpulannya manusia seringkali tidak
menyadari bahwa tindakannya dapat mengganggu keseimbangan alam, pohon yang
ditebang selain hanya bikin panas daerah pemukiman yang sudah panas, juga
menghancurkan habitat satwa yang tinggal di dalamnya. Terbukti dengan munculnya
berbagai virus dan penyakit beriringan dengan semakin rusaknya sumber daya alam
di bumi kita. Jadi buat yang peduli dan membaca tulisan ini jangan sembarangan
tebang pohon, perhatikan ekosistem di sekitar lingkungan jangan sampai merugikan
diri sendiri.
Posted in Current Affairs | 1 Comment »