naik kereta api tut tut tut
“Naik kereta api tut, tut, tut… siiiapa mau turuut…ke Banduung, Surabayaa…” lagu ini sudah jarang terdengar lagi tapi nggak tau kenapa gue masih inget aja, awalnya gue tahu lagu ini waktu duduk di bangku Sekolah Dasar. Kadang-kadang lagu itu masih gue nyanyikan dalam hati, terutama ketika naik Kereta Ekonomi jurusan Jakarta, tapi versinya sedikit beda “Naik kereta listrik bzzzt, bzzt, bzzt…siiiapa mau turuut…ke Tebet, sampai Kota…Awaaas copetnya tak kan jeraaa…” dst. Versinya jadi beda karena kereta yang gue tumpangi adalah kereta listrik yang tidak memiliki cerobong asap layaknya kereta api jaman dahulu yang bunyinya “tut, tut, tut…” Tapi gue masih sering membayangkan alangkah menyenangkannya perjalanan dengan kereta uap jaman dahulu melewati sawah, bukit dan perkebunan yang belum banyak polusi, nggak seperti kereta listrik zaman sekarang yang berjalan melalui tumpukan sampah pasar perkotaan yang baunya bercampur dengan keringat manusia dan asap kendaraan bermotor. “Parfum” dari bahan baku sampah ini baunya menyengat dan menusuk hidung para penumpang di dalam gerbong kereta, hal ini semakin menambah ketidaknyamanan kereta listrik yang selalu penuh. Meskipun kereta listrik di Jakarta ini sangat tidak nyaman, masih banyak orang yang memilih naik kereta listrik, termasuk gue, soalnya di saat harga bensin yang melambung menyebabkan tarif transportasi naik, PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) belum menaikkan harga tiketnya. Sekalipun harga tiket itu naik, kemungkinan besar tidak akan terlalu tinggi jika dibandingkan dengan harga tarif transportsi umum yang naiknya berkali-kali lipat. Sehingga dalam keadaan ekonomi sulit seperti sekarang ini, kereta listrik menjadi alternatif angkutan yang murah untuk para kaum menengah bawah. Selain KRL Ekonomi ada juga KRL Ekspress AC jurusan Kota yang berhenti di stasiun tertentu, kereta yang satu ini lebih nyaman dan beradab tapi harga tiketnya juga jauh lebih mahal, sehingga secara jelas membedakan kelas masyarakat yang memiliki penghasilan cukup dengan yang berpenghasilan kurang, gue sering naik kereta Ekspress AC ini waktu bekerja di daerah Pasar Baru (waktu itu penghasilannya masih cukup huhuhu…). Jadi, apapun jenisnya, kereta di daerah perkotaan memang sudah sangat berbeda dengan kereta api yang digambarkan oleh lagu tersebut, kereta listrik di perkotaan adalah sebuah alat transportasi massal yang setiap harinya mengangkut ribuan orang di Jakarta, sementara kereta yang di lagu “Naik Kereta Api” adalah kereta (yang mungkin pada zaman penjajahan Belanda) digunakan untuk mengangkut penumpangnya ke berbagai daerah di pulau Jawa (bener nggak tuh?). Seandainya Pintu Ke Mana Saja-nya Doraemon benar-benar ada, gue nggak perlu lagi naik transportasi umum yang menyebalkan atau membayar bensin yang harganya nggak mau turun (hhmmmm…)