rumahku bedengku
Rumah gue adalah sebuah rumah yang terhitung tua, rumah satu tingkat
yang dibangun pada pertengahan tahun 70-an dengan arsitektur sederhana
yang dipugar secara asal oleh ayahanda tercinta. Kenapa asal? Ceritanya
begini, selama tahun 80-an rumah ini mengalami pemugaran seperti
penambahan kamar, kolam ikan (yang sempat dibongkar dan dibikin lagi),
kamar mandi serta garasi mobil. Tapi salah satu perombakan yang yang
paling kontroversial terjadi pada awal tahun 90-an ketika tangga yang
menuju ke kamar atas dipindahkan dari ruang tengah ke ruang belakang
(di atas sebuah kolam kecil). Tangga ini tidak langsung menuju pintu
depan kamar gue tapi melalui jemuran dulu baru sampai di kamar. Ide
awalnya sih agar ruang tamu di rumah gue lebih lega dan udara yang
masuk lebih banyak, dan juga supaya tangga di rumah gue berada di
ruangan yang terbuka (alias bisa melihat langit, awan dan kadang kala
burung yang suka membuang bom-nya sembarangan di kepala gue) Tapi yang
nggak terpikirkan oleh babe gue adalah ketika hujan sudah pasti ruang
jemuran pakaian akan basah dan karena gue harus melalui jemuran itu
setiap kali gue mau ke kamar, maka kalau hujan udah pasti gue terkena
cipratan-cipratan air hujan itu. Belum lagi sejak itu tetangga gue
dapat melihat gue bolak-balik dari kamar ke ruang bawah atau jika
sedang beraktifitas menjemur pakaian, jadi privasi pun agak berkurang.
Meskipun gue sering mengeluhkan berbagai kekurangan rumah ini (secara
fisiknya) tapi ini adalah tempat ternyaman buat gue, gue tumbuh dan
menjadi dewasa di rumah ini, dari gue masih digendong sampai gue sudah
cukup besar dan sering keluyuran karena bisa nyetir mobil sendiri
(meskipun mobilnya sekarang udah dijual hiks, tapi nggak apa-apa karana
harga bensin mahal banget sekarang) Pengalaman gue beberapa bulan
terakhir pun membuat gue semakin merasa bersyukur masih memiliki rumah
ini, karena gue lihat semakin banyak orang yang tinggal di
tempat-tempat yang tidak layak di huni manusia. Sebagai contoh di
sebuah bantaran kali dekat rumah gue kini bermunculan rumah yang
terbuat dari kayu dan seng atau biasa disebut bedeng. Keluarga yang
tinggal di bedeng itu rata-rata berprofesi sebagai kuli bangunan,
pemulung atau pengemis. Gue nggak tau bagaimana dan darimana mereka
muncul tapi keadaan ini semakin merisaukan karena kemanapun gue pergi,
setiap gue pulang malam hari, pemandangan yang gue lihat adalah orang
yang tidur di emperan toko atau di kolong jembatan. Tadinya gue pikir
ini adalah fenomena yang umum terjadi di perkotaan menjelang lebaran
ketika ribuan pengemis datang membanjiri kota Jakarta untuk mendapatkan
jatah zakat tapi kejadian ini udah berlangsung lama, jauh sebelum bulan
puasa. Dan selama gue tinggal di kota Depok, terutama di kompleks
perumahan gue, nggak pernah ada kejadian seperti ini. Gue rasa jurang
sosial antara masyarakat kaya dan miskin semakin dalam dan semakin
memburuk, yang gue bisa lakukan saat ini hanya menulis dan berharap
buat siapapun yang baca tulisan ini untuk membuka mata juga dan melihat
keadaan lingkungannya, gue jamin dalam radius beberapa meter dari rumah
loe pasti akan ketemu pemandangan seperti ini (terutama kalo loe
tinggal di Jakarta). Untuk saat ini gue akan mencoba berbuat sesuatu
untuk membantu mereka, paling nggak dengan zakat, karena itu salah satu
cara yang gue tau dan gue dapat menyalurkannya ke orang yang memang
benar-benar membutuhkan, terutama di sekitar kompleks gue. Rumah gue
seperti istana jika dibandingkan dengan mereka dan gue malu karena gue
sering mengeluhkannya, thank you Lord I still have a wonderful house.
October 31st, 2005 at 2:25 am
su casa, mi casa