wedding paranoia
Gue punya temen yang paling nggak suka datang ke acara pernikahan keluarga. Gue nggak tahu alasan persisnya kenapa, tapi akhirnya gue jadi punya perasaan yang sama. Kok gue bisa punya perasaan yang sama? Ceritanya begini, biasanya kalau mempelainya kebetulan saudara dekat seperti kakak, adik atau sepupu berarti yang datang ke pernikahan adalah saudara dari keluarga terdekat, kalau di Jawa biasanya pakde, bude, tante, om dan lain sebagainya yang semuanya punya tali persaudaraan dengan orang tua kita. Nah! di keluarga gue, seperti layaknya keluarga Jawa pada umumnya (atau rata-rata keluarga di Indonesia ), memiliki silsilah persaudaraan yang rumit dan untuk mengenali saudara atau pakde ini sangat sulit dilacak jejaknya (inget iklan HSBC?) Silsilah yang rumit ini menyebabkan gue bingung kalau ketemu sama saudara gue, salah satu alasannya adalah karena orang tua gue pasti selalu menyuruh untuk menghafalkan semua saudara-saudara itu (masya ampun dari keluarga besar aja bisa memenuhi sebuah gedung pertemuan berukuran kira-kira 2000 x 1000 meter, gimana menghafalnya?) atau paling nggak gue hafal dengan saudara yang dekat sama bokap gue, ini aja udah setengah mati ingetnya. Akhirnya mungkin orang tua gue nyerah dan membiarkan gue kenal dekat sama keluarga dari pihak bapak dan ibu gue aja, fiuuuh…
Selain silsilah yang rumit itu biasanya ada sebuah ajang hiburan tahunan bagi para bude-bude dan tante-tante, mereka paling senang menginterogasi para bujang yang tak berdaya (seperti gue ini) dan anak perempuan yang masih ‘single’ dengan usia di atas 22 tahun, waahhh pasti jadi bulan-bulanan. Pertanyaan paling populer adalah “Jadi kamu kapan nyusul?” lalu gue jawab “Nyusul apa? Bis? Apa saya sedang ikut lomba lari?” pertanyaan ini sepertinya menjadi standar kelayakan untuk menjadi seorang bude maupun tante, akibatnya apabila adik atau kakak perempuan dari bapak atau ibu kita belum melontarkan pertanyaan seperti itu, berarti dia tidak lulus uji standar kelayakan untuk menjadi seorang bude maupun tante. Bahkan ajang pertanyaan maut ini akan terus menghantui apabila kita sudah memiliki pasangan dan sudah menikah. Contohnya kalau seseorang di keluarga sudah menikah, maka pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana udah isi belum?” Kalau memang budenya agak cerewet sampai hamil pun akan terus ditanya “Kapan lahirnya? Laki atau perempuan? Mau dirawat di mana?” Bukannya gue mau mengeluhkan pertanyaan itu, gue ngerti kalau sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap keponakannya yang baru menikah, tapi apakah segala sesuatu itu harus selalu dipertanyakan? Dan mengingat pertanyaan itu selalu diulang setiap kali bertemu jelaslah membuat siapapun jadi tertekan, rasanya seperti lagi ujian terus diawasi sama ibu guru.
Teror di dalam keluarga ini akan lebih berat bagi si bujang, kalau si bujang belum punya pasangan pasti akan dilempar ke kolam perjodohan (gue biasanya dicemplungin dalam kolam perjodohan ini sampai basah kuyup–being the only single person in the family), sementara kalau sudah punya pasangan pasti disuruh ikut lomba buruan kawin. Hweh, dipikirnya nikah itu gampang, udah gitu apakah udah cocok apa belum sama pasangan kita nggak pernah dipikirin oleh mereka. Seringkali tekanan-tekanan ini bisa juga meretakkan hubungan si bujang dengan pasangannya, bisa karena si bujang takut akan komitmen atau sebaliknya pasangannya yang takut komitmen. Semua ini akhirnya membuat gue menjadi enggan menghadiri acara pernikahan atau pertemuan keluarga, tapi kalau memang harus datang (tidak dengan terpaksa) ini adalah beberapa tips untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan maut it (semoga bermanfaat):
- Apabila bude dan tante mendekat, segeralah berpura-pura menjadi pohon atau tanaman hias yang ada dalam gedung pertemuan.
- Jika strategi itu tidak berhasil dan para bude dan tante menemukan lo sambil nanya-nanya, segera isi mulut dengan banyak makanan supaya tidak harus menjawab (jangan lupa ambil minum nanti tersedak).
- Coba bergabung dengan kumpulan saudara ipar karena di sana tidak ada yang kenal, jadi bebas dari pertanyaan maut. Tapi ingat, carilah yang masih muda-muda karena kalau berkumpul dengan yang sudah tua pasti pertanyaan itu muncul lagi.
- Mendekatlah ke speaker dan pura-pura tidak dengar kalau dipanggil oleh bude atau tante, ingat! sumbat kuping pakai kapas atau bisa kena resiko ‘budek’ beneran.
- Kalau bude dan tante terlanjur bertanya, berpura-puralah terima telepon penting dari presiden yang ingin ketemu lo untuk sebuah urusan penting menyangkut keberlangsungan negara RI.
- Jika bude dan tante ternyata kenal dekat atau bersahabat dengan presiden RI maka segera tutup telpon dan perlahan berjalanlah menjauh. Apabila jarak sudah cukup jauh lemparkan sebuah bom asap dan menghilanglah layaknya seorang ninja.
- Kalau semua strategi itu tidak berhasil, jawab saja pertanyaan mereka dengan senyum manis sambil berputar haluan menuju tempat makanan dan makanlah yang banyak hwahaha…burp!
June 7th, 2006 at 8:36 am
[quote]Apabila bude dan tante mendekat, segeralah berpura-pura menjadi pohon atau tanaman hias yang ada dalam gedung pertemuan.[/quote]
hahaha I like this one!!! tp gimana cara ya dimsky?? I’m not as slim as a tree kecuali klo pohonnya pohon beringin huhuhu
August 2nd, 2006 at 12:51 am
kayaknya harus berubah jadi kartun dulu :p